Senin, 14 Juli 2014

Penelitian Ku




KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PENDERITA TB PARU DI PUSKESMAS KOTARAJA DAN PUSKESMAS HAMADI KOTA JAYAPURA TAHUN 2013

Monica Saraswati Paulina Rawar, Maria Cornelia Yuliana Hukubun

ABSTRAK
Tingginya angka kepatuhan dan masih tingginya angka ketidakpatuhan pada penderita yang memungkinkan risiko pengobatan gagal dan default disebabkan oleh pengetahuan, keparahan, motivasi dan peran PMO. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan kepatuhan minum obat pada penderita TB Paru di Puskesmas Kotaraja dan Puskesman Hamadi.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan rancangan fenomenologi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam. Penelitian ini berlangsung selama 1 bulan pada bulan Maret 2013. Populasi penelitian adalah penderita TB Paru yang patuh dan tidak patuh minum obat dengan sampel sebanyak 8 informan utama dan informan pendukung sebanyak 4 orang.
Hasil penelitian adalah informan yang patuh dan tidak patuh minum obat memahami tentang penyakit TB Paru. Persepsi informan yang patuh dan tidak patuh minum obat tentang keparahan dan ancaman yang ditimbulkan daripenyakit TB Paru sangat beragam, ada yang merasa terancamkarena keparahan penyakit namun adapula yang tidak merasa terancam. Persepsi informan yang patuh dan tidak patuh minum obat tentang kemungkinan peluang penularan terhadap penderita yang sudah sembuh adalah bisa tertular kembali, namun adapula yang mengatakan tidak bisa, dan adanya kemungkinan peluang penularan terhadap lingkungan. Penafsiran informan yang patuh dan tidak patuh minum obat terhadap penderita yang tidak patuh minum obat adalah penyakit bertambah parah bahkan meninggal. Informan yang patuh dan tidak patuh minum obat beranggapan bahwa adanya dampak yang ditimbulkan, adapula yang merasa tidak menimbulkan dampak. Motivasi yang mendorong informan melakukan pengobatan adalah adanya keinginan untuk sembuh, motivasi juga diberikan oleh keluarga, tenaga kesehatan, dan adanya kemauan dari diri sendiri untuk minum obat supaya bisa sembuh.

Kata Kunci : kepatuhan, minum obat, dan TB Paru


 
PERBEDAAN PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH PADA REMAJA YANG TINGGAL KOST DAN REMAJA YANG TINGGAL DENGAN  ORANG TUA  DI RW 04
KELURAHAN KOTA BARU  DISTRIK ABEPURA
TAHUN 2011

Yoseph Fritz G Rengu, Maria Cornelia Yuliana Hukubun


ABSTRAK
Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak menuju masa dewasa. Pesatnya arus komunikasi  dan informasi serta tersedianya prasarana yang menunjang mengakibatkan perilaku seksual yang tidak sehat di kalangan remaja khususnya remaja yang belum menikah semakin meningkat. Hal ini tentu saja dapat menimbulkan keadaan yang berbahaya dalam perilaku seksual remaja terutama hubungan seksual pranikah.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perbedaan perilaku seksual pranikah pada remaja yang tinggal kost dan tinggal dengan orang tua di RW 04 Kelurahan Kota Baru Distrik Abepura. Metode penelitian adalah analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan pada tanggal 22 Maret – 2 April 2011. Sampel adalah remaja berumur 18-21 tahun. Sampel diambil secara purporsive sampling dengan jumlah 96 sampel kemudian diwawancara dan diberikan kusioner.
Hasil penelitian diperoleh remaja yang tinggal kost  yang memiliki pengetahuan baik 40 orang (49,4%) dan yang tinggal dengan orang tua 41 orang (50,6%). Sikap remaja yang tinggal kost yang sikapnya baik 38 orang (48,7%) dan yang tinggal dengan orang tua 40 orang (51,3%). Remaja yang pernah melakukan perilaku seksual pranikah 18 orang (72%) tinggal kost dan  7 orang (28%) tinggal dengan orang tua, didapat nilai p-value = 0,020, RP 2,571 (1,184-5,587). Terdapat perbedaan antara pengetahuan dengan tindakan perilaku seksual pranikah pada remaja yang tinggal kost dengan nilai p-value = 0,003, remaja tinggal dengan orang tua p-value = 0,000. Pada sikap pada remaja yang tinggal kost dengan nilai p-value = 0,003 terdapat perbedaan dan pada remaja tinggal dengan orang tua p-value = 0,080 tidak terdapat perbedaan.

                                             
Kata kunci : Perilaku Seksual Pranikah, Remaja







PERILAKU SEKSUAL GAY DI KOTA JAYAPURA TAHUN 2013


Muamar Karim, Maria Cornelia Yuliana Hukubun, Helmin Rumbiak


ABSTRAK

Homoseksual dibagi menjadi dua istilah gay dan lesbi. Dibandingkan lesbi, kelompok homoseksual gay lebih berani menampilkan dirinya dalam masyarakat, walaupun tidak secara langsung melainkan melalui organisasi-organisasi gay yang sudah ada sehingga lebih mudah diidentifikasi. Hubungan seksual beresiko gay bila dibandingkan dengan lesbi dan terkait penularan penyakit, gay memiliki resiko penularan penyakit lebih besar diakarenakan hubungan seksual gay yang cenderung berganti-ganti pasangan dan anal yang dijadikan media seks sangat rentan terluka sehingga bisa menjadi transmisi penularan penyakit, khusunya IMS.
 Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan rancangan fenomenologi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam.  Populasi dalam penelitian ini sebanyak 16 informan yang terdiri dari 7 orang gay dan 9 orang dari elemen masyarakat.
Hasil dari penelitian ini adalah latar belakang kehidupan , penyadaran diri sebagai seorang gay terjadi saat beranjak dewasa dan beberapa saat remaja dan hubungan seksual pertama kali disebabkan karena suka sama suka, ajakan dari orang lain. Perspektif gay tentang kehidupan gay, informan masih menstigma orientasi seksualnya disisi lain informan menganggap gay bagian dari hak asasi. Perspektif masyarakat tentang kehidupan gay, jika dilihat dari sisi agama gay merupakan dosa yang perlu mendapatkan pendampingan, sedangkan dari sisi sosial gay menurut informan merupakan bentuk keberagaman masyarakat yang tidak perlu dipermaslahkan selama tidak menimbulkan keresahan bagi masyarakat. Informan gay telah memahami hubungan seksual, jenis hubungan seksual perilaku seksual beresiko dan pencegahan IMS saat berhubungan seksual. Jumlah pasangan seksual informan gay, informan memiliki lebih dari satu pasangan seksual.

Kata Kunci : Perilaku seksual, Gay, Kota Jayapura.







GAMBARAN PERILAKU WANITA USIA SUBUR TENTANG SADARI DALAM UPAYA DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA DI KELURAHAN MANDALA DISTRIK JAYAPURA UTARA
TAHUN 2013

Oleh
GALIO RUDOLFO DIAN BURDAMES, MARIA C.Y HUKUBUN, YANE TAMBING



ABSTRAK
Kanker payudara merupakan tumor ganas yang berasal dari sel-sel yang terdapat pada payudara. Angka kunjungan pada rumah sakit dok II  pada tahun 2005 sampai dengan 2011 adalah 465 orang dan sebanyak 40% kunjungan berasal dari wilayah Jayapura Utara. SADARI merupakan salah satu bentuk promosi kesehatan karena dilakukan pada orang yang sehat melalui upaya deteksi dini kanker payudara. Belum adanya penelitian terkait Perilaku SADARI di Papua, yang ada masih sebatas hospitality sehingga perlu dilakukan dalam sebuah komunitas.Tujuan penelitian ini adalah Mengetahui gambaran Perilaku  wanita usia subur tentang  SADARI dalam upaya deteksi dini kanker payudara di Kelurahan Mandala Distrik Jayapura Utara tahun 2013.
Penelitian menggunakan metode Deskriptif dengan pendekatan Cross sectional. Populasi  penelitian sebanyak 1.421. Penentuan sampel  dengan teknik simple random  sampling dengan cara mengundi terhadap wanita usia subur yang berdomisili di Kelurahan Mandala Distrik Jayapura Utara dengan sampel sejumlah 93 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner untuk mengetahui pengetahuan, sikap dan tindakan.
 Hasil penelitian menunjukan pengetahuan WUS  tentang  SADARI baik 48 (51,6%) dan 5 sampel (5,4%) berpengetahuan jelek, sedangkan sikap terhadap SADARI sangat baik 41 (44,1%) dan 52 sampel (55,9%) baik. Tindakan terhadap SADARI baik sebanyak 16 sampel (17,2%) dan 77 sampel (82,8%) kurang. Sehingga perilaku Wanita usia subur di Kelurahan Mandala dikategorikan kurang.


Kata kunci: Kanker Payudara,Perilaku, SADARI.







GAMBARAN STIGMA DAN DISKRIMINASI
TERHADAP ORANG DENGAN HIV DAN AIDS
DI KOTA JAYAPURA TAHUN 2012


GABRIELLA RISTY L.D. NABU, MARIA C.Y HUKUBUN, NOVITA MEDYATI

ABSTRAK

Tahun 2011 Kota Jayapura yang merupakan lokasi penelitian memiliki jumlah penderita HIV/AIDS sebesar 1914 jiwa. Masalah HIV/AIDS kini telah menjadi masalah sosial dalam perkembangannya seorang penderita yang sering disebut ODHA selain menghadapi masalah kesehatan, juga menghadapi permasalahan psikososial, yakni mendapat stigma sampai dengan perlakuan yang diskriminatif baik secara internal maupun eksternal. Penelitian ini menggambarkan stigma dan diskriminasi yang terjadi terhadap ODHA di Kota Jayapura
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan rancangan fenomenologi. Informan utama adalah 9 ODHA yang mengalami stigma dan tindakan diskriminasi dari lingkungan sekitarnya maupun dari dirinya sendiri serta 3 orang aktivis HIV/AIDS yang merupakan informan pendukung. Wawancara mendalam digunakan untuk mengumpulkan data. Keabsahan data dilakukan dengan trick description dan confirmability.
Stigma dan diskriminasi terhadap ODHA masih terjadi di Kota Jayapura. Adanya stigma yang diberikan terhadap ODHA dikarenakan pengetahuan masyarakat bahwa HIV hanya menular melalui hubungan seksual, oleh karena itu ODHA dicap sebagai pendosa dan perusak nama baik keluarga. Tidak sedikit ODHA yang mengalami tindakan diskriminasi dari keluarga, lingkungan sosial, tempat kerja, pelayanan kesehatan bahkan di tempat peribadatan. Hal ini dikarenakan adanya perasaan rentan terhadap penularan HIV serta mengetahui besarnya keparahan yang ditimbulkan oleh HIV/AIDS sehingga menimbulkan suatu ancaman bagi orang lain jika dekat dengan ODHA dan berhubungan biasa dengan ODHA.
Stigma dan diskriminasi terhadap ODHA dapat diminimalisasikan dengan memberikan pemahaman secara terus-menerus tentang HIV/AIDS serta penularan HIV/AIDS sehingga tidak terjadi anggapan-anggapan yang keliru yang dapat menimbulkan diskriminasi terhadap ODHA.
Kata Kunci : Ancaman, stigma, diskriminasi









Tidak ada komentar:

Posting Komentar